Sering Dianggap Sama! Ini Dia 5 Perbedaan Bagel dan Donat

perbedaan bagel dan donat

Bentuknya mirip, bulat dengan lubang di tengah, tapi siapa sangka kalau bagel dan donat ternyata dua jenis makanan yang berbeda? Dari cara membuat, tekstur, sampai cita rasanya, keduanya memiliki karakteristik unik yang membuat penggemarnya sendiri-sendiri.

Bagi pecinta bakery, memahami perbedaan ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal teknik dan alat yang digunakan untuk membuatnya. Sebab, setiap detail, mulai dari ragi, suhu, hingga proses pemasakan, akan menentukan hasil akhirnya.

Nah, di artikel ini Jaya Agung Mesin akan membahas lima perbedaan utama antara bagel dan donat yang sering dianggap sama. Yuk, kita mulai bahas satu per satu!

1. Metode Memasak (Perebusan vs. Penggorengan)

Sebelum membahas perbedaan lainnya, hal paling mencolok antara bagel dan donat terletak pada cara memasaknya.

Bagel dibuat dengan proses yang cukup unik, adonannya direbus dalam air panas selama beberapa detik sebelum akhirnya dipanggang di oven. Teknik ini membuat permukaannya sedikit mengilap, bagian luar menjadi renyah, sementara dalamnya tetap kenyal dan padat. Hasilnya, tekstur bagel terasa lebih “berisi” dan menggigit saat disantap.

Sementara itu, donat justru melewati jalur berbeda. Setelah adonan mengembang sempurna, ia langsung digoreng dalam minyak panas hingga berwarna keemasan. Hasilnya? Donat punya tekstur yang lebih lembut, ringan, dan empuk. Tak heran kalau aroma minyak dan rasa manis gula menjadi ciri khas yang membuat banyak orang jatuh cinta.

2. Komposisi Adonan dan Ragi

Kalau dilihat sekilas, adonan bagel dan donat tampak mirip, sama-sama terbuat dari tepung, air, ragi, dan sedikit gula. Tapi di balik itu, ada rahasia penting yang membuat hasil akhirnya berbeda jauh.

Adonan bagel biasanya mengandung ragi sedikit lebih banyak dan sering kali didiamkan dalam suhu dingin (proses retarding) sebelum dimasak. Tujuannya agar adonan mengembangkan rasa dan struktur gluten yang lebih kuat, sehingga menghasilkan tekstur khas yang padat dan kenyal.

Sementara donat, justru diproses lebih sederhana. Setelah adonan mengembang, langsung siap digoreng tanpa perlu proses pendinginan. Dari segi rasa, bagel cenderung gurih karena sering ditambah bahan seperti garam, bawang, atau biji-bijian. Donat, di sisi lain, lebih sering disajikan manis, baik dari adonan maupun topping-nya.

Baca Juga: Ingin Donat Seperti di Toko Bakery? Ini Alat dan Bahan yang Dibutuhkan

3. Isi dan Topping

Kalau bicara soal topping, donat jelas juaranya dalam hal variasi. Gula halus, cokelat leleh, meses, hingga selai stroberi, semua bisa ditemukan di permukaannya. Tak jarang, donat juga diisi dengan krim, custard, atau selai di bagian tengahnya. Dengan rasa dominan manis, donat sering dianggap comfort food yang cocok dinikmati kapan pun.

Sedangkan bagel, lebih sering tampil dengan gaya gurih atau netral. Di permukaannya biasanya terdapat taburan biji wijen, biji poppy, atau bawang kering. Beberapa jenis bagel bahkan diisi dengan keju, salmon, atau krim keju, pilihan klasik yang sering dijumpai di kafe bergaya barat. Meski begitu, kini juga banyak varian bagel manis yang mulai populer, seperti cinnamon raisin bagel.

Menariknya, kedua makanan ini sama-sama bisa jadi menu sarapan praktis, tergantung selera, ingin yang lembut manis atau padat gurih.

4. Kandungan Kalori dan Nutrisi

Salah satu perbedaan penting lainnya adalah pada kandungan gizinya.

Karena bagel direbus dan dipanggang, kadar lemaknya cenderung lebih rendah dibandingkan donat yang digoreng dalam minyak. Dalam satu buah bagel polos berukuran sedang (sekitar 100 gram), rata-rata mengandung 270–300 kalori, dengan kadar lemak sekitar 1–2 gram.

Sementara donat ukuran serupa bisa mencapai 350–450 kalori, tergantung topping-nya, dengan kandungan lemak 10–20 gram karena proses penggorengan. Jadi, bagi yang sedang memperhatikan asupan kalori, bagel bisa jadi pilihan lebih “aman”, terutama jika dipadukan dengan topping sehat seperti keju rendah lemak atau sayuran.

JenisCara MemasakKalori (per 100g)Lemak (gram)Ciri Tekstur
BagelDirebus lalu dipanggang270–3001–2Kenyal dan padat
DonatDigoreng350–45010–20Empuk dan lembut

5. Umur Simpan dan Kesegaran

Kalau berbicara soal daya tahan, bagel lagi-lagi unggul. Karena teksturnya lebih padat dan proses pemasakan ganda (rebus dan panggang), bagel bisa bertahan hingga beberapa hari jika disimpan dengan benar dalam wadah kedap udara atau freezer. Saat ingin dikonsumsi kembali, cukup dipanggang sebentar agar teksturnya kembali nikmat.

Donat, di sisi lain, cenderung cepat kehilangan kesegarannya. Setelah satu atau dua hari, teksturnya bisa berubah menjadi kering atau berminyak, apalagi jika topping manisnya mencair. Karena itu, donat paling enak dinikmati dalam kondisi baru matang, hangat dan lembut.

Jadi, kalau mencari camilan yang tahan lama untuk stok, bagel lebih bisa diandalkan. Tapi kalau ingin sensasi manis yang meleleh di mulut, donat tetap sulit tergantikan.

Baca Juga: 15 Bakery Equipment untuk Memaksimalkan Penjualan!

Kesimpulan

Jadi, meskipun bagel dan donat sama-sama berbentuk bulat dengan lubang di tengah, keduanya memiliki karakter yang sangat berbeda. Dari metode memasak, komposisi adonan, topping, kandungan gizi, hingga daya tahan, semua punya ciri khas tersendiri.

Bagel dibuat melalui proses perebusan dan pemanggangan, menghasilkan tekstur yang kenyal dan rasa gurih yang khas. Sementara donat digoreng hingga kecokelatan dengan rasa manis dan tekstur lembut yang membuat siapa pun mudah jatuh hati.

Apa pun pilihannya, keduanya tetap jadi bagian penting dari dunia bakery modern yang terus berkembang. Dan tentu saja, bagi pelaku usaha roti, kunci hasil sempurna bukan hanya pada resep, tapi juga alat yang tepat.

Untuk itu, Jaya Agung Mesin hadir menyediakan berbagai peralatan bakery berkualitas, termasuk mesin pembuat donat, oven, mixer, hingga alat pemanggang untuk bagel. Yuk, cek produk-produknya di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *